Sudah hampir sebulan berlalu, dan kami mulai perlahan move on ke kehidupan masing-masing yang penuh dengan deadline, target dan berbagai jenis kawanannya. Walaupun demikian, hal ini telah memberi warna sendiri dalam hidup setiap kami, pribadi lepas pribadi, dalam bentuk sebuah pengalaman bertemu, bekerja sama dan membentuk 20 anak muda. Bekerja lewat waktu yang seharusnya dialokasikan untuk menjadikan mereka bintang baru di masa depan. Investasi? Anggap saja seperti itu.
Starteen 2012, itulah yang kami kerjakan selama beberapa bulan. Sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh HighEnd Teen magazine untuk memilih brand ambassador, yang tentunya berasal dari kalangan muda sekitar 13 – 19 tahun (highendteen.com/starteen). Dimulai pada tahun 2008, ajang ini bisa dibilang merupakan batu lompatan untuk belajar sebelum terjun ke dalam dunia entertainment di masa depan. Itulah mengapa, selain good-looking, seluruh finalis dituntut memiliki bakat unik yang dapat ditampilkan dan ‘dijual’. Mulai dari menyanyi, olahraga sampai beladiri, seperti Pencak Silat.
Meskipun audisi sudah diadakan dalam sekian satuan waktu sebelumnya, 20 September adalah masa di mana seluruh pengalaman ini dimulai. Pengalaman unik yang tidak pernah terbayang akan terjadi dalam kehidupan kami. Bukan, kami bukanlah finalis. Kami berlima adalah “The Chaperones” dengan komposisi seorang Head dan empat anggota yang masing-masing mengurus 5 finalis terpilih. Dan tidak semua dari kami adalah tim redaksi khusus untuk HighEnd Teen. Menyenangkan? Hei, kisah ini belum dimulai.
Walaupun sudah terpilih menjadi TOP 20, mereka masih cukup muda dan baru dalam konteks kegemerlapan langkah berbatu menjadi sekumpulan pekerja seni yang sukses, gilang gemilang. Sebagai pendamping sekaligus daily mentor, kami tidak ingin mereka menjadi bintang yang ‘asal jadi’ tetapi bintang yang memiliki disiplin tinggi, kecerdasan mumpuni, wicaksana adiluhung (read: kebijaksanaan) sehingga masyarakat awam dapat melihat mereka seperti sejumlah “Angels” atau malaikat yang membawa kebahagiaan bagi mereka yang sedang depresi dan butuh hiburan di televisi atau di manapun. Oya, mereka pun juga harus tahan banting, minimal setegar tokoh Annisa dalam film Perempuan Berkalung Sorban besutan Hanung Bramantyo.
Tantangan dari hari kesehari selama karantina, jujur, terbayarkan dengan keakraban seluruh finalis dan tentunya kesuksesan besar pada malam Grand Final yang ditayangkan di Global TV. Ini juga bisa dibilang pengalaman kami yang pertama to handle mereka sepenuhnya di belakang panggung. Penuh ketegangan dan kericuhan yang memacu emosi dan menguras perasaan. Belum lagi kami harus tetap menjaga semangat mereka untuk tampil memukau dan konsisten di depan kamera secara langsung (read: LIVE). Satu yang tidak pernah terlupakan: 5 finalis harus ganti baju dalam waktu hanya 1 menit. Bisa terbayang bagaimana rusuhnya. Keseruan itu pun berlanjut pada satu titik bagaimana kita menampilkan yang terbaik sampai kepada penobatan, tanpa terlalu ambil pusing siapa yang menang. Itu tetap keputusan juri yang subjektif (tidak akan pernah obyektif, referring to ‘selera’).
Ya, secara pribadi dan singkat, ini pengalaman seru dan menyenangkan untuk bisa menjadi bagian darinya. Masalahnya kan tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, meskipun itu tanpa pamrih apapun.
Terima kasih The Chaperones (dan yang lainnya) untuk kekompakan dan semua kerjasamanya.
Selamat untuk King and Queen Starteen 2012 dan seluruh finalis, you guys more than awesome!
15.10.12
One-Day Trip in Kutna Hora
Saya menulis kesaksian ini ketika sedang harus transit di Dubai Airport untuk menanti penerbangan subuh kembali ke Jakarta. Setelah kurang lebih 6 jam perjalanan dari Praha, akhirnya saya bias beristirahat sambil menikmati 3 tangkap sandwich dan segelas orange juice di restoran gratis khusus penumpang Emirates. Kembali lagi saya mempunyai waktu cukup untuk merenungkan betapa luar biasanya kasih Tuhan Yesus dalam hidup saya. Setelah lulus dari Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta akhir Desember 2010, saya “dihadiahkan” sebuah keajaiban luar biasa yaitu perjalanan satu bulan kembali ke Republik Ceko. Kali ini saya datang bukan sebagai exchange student seperti awal tahun lalu, melainkan untuk liburan dan sedikit belajar bahasa. Awalnya, saya sempat sejenak bertanya siapakah saya sehingga Dia begitu cinta padaku? Ia sudah memberikan keselamatan kekal dan sekarang ada bonus berupa perjalanan lagi ke Eropa. How amazing He is!
Ada beberapa tempat yang saya kunjungi dalam perjalanan kali ini. Salah satunya adalah Kutna Hora yang terletak sekitar 70 km sebelah timur Praha, ibukota Republik Ceko. Kota ini adalah sebuah kota kecil yang harus ditempuh sekitar 1 jam lebih dari Praha dengan kereta api seharga 136 Kc pp (sekitar Rp. 80.000,-). Sembari ditemani oleh seorang teman yang keturunan asli Indonesia tetapi berkewarganegaraan Perancis, kami berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Hlavní nádraží (stasiun utama) dengan bermodalkan kamera dan sarapan berupa Pribinacek – semacam yogurt, Párek v rohlíku – hotdog dan sebotol Perlivá voda – sparkling water. Perjalanan kali ini merupakan kesekian kalinya saya menggunakan kereta untuk mengawalinya. Hal ini tentu membuat saya tidak lagi canggung, apalagi saya sudah mampu sedikit berbahasa Ceko yang sangat kompleks itu. Saya patut bersyukur atas hal ini.
Cathedral of Our Lady dan Kostnice – Gereja Tengkorak
Sekitar pukul 10 kami tiba di Kutna Hora bersama sejumlah turis lain dari berbagai bangsa. Sepertinya kami semua punya satu kesepakatan, yaitu kembali ke Praha pada petang hari. Kira-kira seperti itulah yang saya tangkap dari percakapan sepasang turis asal Inggris. Kami pun langsung berjalan kaki sekitar 1 km menuju 2 gereja yang cukup bersejarah. Kami langsung terpukau dengan Cathedral of Our Lady atau Katedrála Nanebevzetí Panny Marie dalam bahasa Ceko karena bentuknya yang ramping tapi megah. Gereja ini ternyata menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage. Hal terunik dari gereja ini adalah pemandangan ketika kita pertama kali masuk altarnya. Menurut ibu penjaga yang berada di sana, altar yang beratap tinggi ini akan semakin menarik pada musim semi dan gugur, di mana pantulan cahaya matahari membuat altar begitu terang terfokus dibanding sisi sekitarnya.
Setelah itu, kunjungan kami langsung mengarah ke Kostnice, Sedlec, yang sangat terkenal karena terdapat kumpulan tengkorak manusia yang sengaja rapi disusun di bawah gereja. Letaknya pun di tengah lahan pemakaman keluarga dari masa lampau. Belum dapat dipastikan sejak kapan bangunan ini dibangun. Akan tetapi, ada data pasti yang menyatakan bahwa tengkorak yang terdapat di situ merupakan tengkorak para prajurit pada masa Perang Hussite tahun 1421-1424 di mana terdapat bekas pedang, cambuk, tongkat dan panah pada sejumlah tengkorak. Hussite sendiri merupakan perang yang diawali oleh pemikiran seorang Jan Hus yang menentang beberapa keabsolutan Gereja Katolik, seperti pengampunan dosa dengan cara membayar uang. Kisahnya memang mirip dengan Martin Luther. Satu hal yang membuat saya penasaran adalah mengapa tengkorak ini perlu dipajang mirip pameran? Pemandu yang ada di situ pun menjawab bahwa tujuan hal ini adalah untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia. Sekuat dan sehebat apapun seorang manusia, kita tetap harus menghadapi kematian. Pameran tengkorak ini mengingatkan kita bahwa manusia itu memang tidak layak bersikap arogan karena seluruh hidup kita memang bergantung pada Tuhan saja. Pemaparan ini cukup bertentangan jika kita melihat kenyataan saat ini bahwa mayoritas penduduk Ceko adalah Atheist.
Perjalanan kami pun harus berlanjut ke Centrum atau pusat kota yang cukup jauh. Oleh karena itu, kami bertanya ke Info Center yang ada di dekat Kostnice. Ia memberikan peta dan menunjukkan jalan kepada kami dengan sangat ramah, tidak seperti orang Ceko pada umumnya. Uniknya, selain memperoleh informasi gratis, saya pun mendapat hadiah berupa DVD dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk Indonesia, yang mengisahkan permulaan dunia sampai kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Ia sebenarnya tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang Kristen namun dengan berani Ia menyatakan bahwa Yesuslah satu-satunya juru selamat manusia untuk memperoleh hidup kekal. Kembali saya terhenyak akan hal ini. Saya tidak pernah menemui kesaksian yang berani seperti ini dari lidah orang Ceko selama hampir satu tahun berada di Praha.
Menu Siang diakhiri di Santa Barbara
Kami langsung menumpang bus kota untuk menuju pusat kota Kutna Hora. Sebelum melangkah lebih jauh, kami pun berhenti di Restaurant Mincovna di Hotel Opat tanpa mengetahui referensi apapun tentang makanan di sana. Restoran yang cukup nyaman untuk makan siang tanpa ada pengunjung lain selain kami berdua. Saya pun memesan Topinkové hranolky s česnekem (roti tawar yang digoreng dengan olive oil dan bawang putih), sepiring Chicken grill with blue cheese cream dan secangkir teh hangat. Jujur, bentuk kurang menarik tetapi rasanya enak luar biasa! Bahkan saya masih ingat rasanya kalau melihat foto-foto di Kutna Hora. Harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran negara-negara Eropa. It was the best lunch I’ve ever had!
Langkah kami pun berlanjut menuju Jesuit College yang juga cukup terkenal di kota ini. Perjalanan ke sana pun semakin spektakuler karena kami melewati Kamenná kašna (semacam tugu di perempatan jalan), České muzeum stříbra-Hrádek (Museum perak megah yang kebetulan sedang tutup) dan toko barang antik (Antikvariat) untuk membeli sejumlah kartu pos kuno. Kebetulan saya adalah seorang kolektor kartu pos karena selain murah, gambar yang disajikan begitu indah dan cukup sulit didapatkan dengan menggunakan kamera biasa. Tibalah kami di sisi samping Jesuit College (Jezuitska Kolej) yang dibangun dengan arsitektur gaya Baroque setelah kedatangan kamu Jesuit yang cukup membawa perubahan di kota tersebut pada tahun 1626.
Di depan Jesuit College, kami langsung dapat melihat keindahan Gereja Katedral St. Barbara (Velechrám sv.Panny Barbory) yang begitu menakjubkan dengan banyak tower mungil yang mengelilingi atap gereja. Biaya untuk masuk dan menikmati kemegahan gereja tersebut adalah 85 Kc atau sekitar Rp. 40.000,- yang memang cukup aneh karena biasanya kita tidak perlu membayar untuk masuk sebuah gereja tetapi saya tidak mau terlalu lama mempertanyakan hal ini. Anggap saja hal ini wajar di sejumlah tempat. Gereja ini ternyata dibangun oleh sejumlah arsitek yang berbeda abad. Pembangunan pertama dimulai pada tahun 1388 oleh Jan Parler dengan hanya satu bagian yaitu The Presbytery. Kemudian berkembang hingga tahun 1773 menjadi 13 bagian kapel di sekeliling ruang jemaat. Info yang menarik dari penjaga gereja adalah bahwa gereja ini dibangun oleh para penambang perak yang datang pada tahun 1142 setelah melepaskan diri dari pengaruh kaum Cistercian yang berpusat di gereja sebelumnya, Cathedral of Our Lady. Tidak heran jika di bagian tengah kursi jemaat terdapat patung penambang yang cukup besar. Hal yang membuat saya kagum adalah rentang waktu yang amat panjang dalam proses pembangunan dan penyempurnaan gereja tersebut yang disertai oleh kesetiaan jemaatnya pada masa itu.
Dari gereja katedral Santa Barbara, kami langsung mengambil jalan menuju halte bus terdekat untuk kembali ke stasiun mengejar kereta pukul 5 sore yang menuju Praha. Dalam perjalanan pulang, saya sejenak berdoa dan merenungkan kebaikan Tuhan karena saya dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, di mana kepercayaan saya bukanlah menjadi mayoritas. Saya memang patut bersyukur karena setiap tantangan yang ada dan kualami ternyata membuat saya semakin kuat di dalam proses yang Tuhan berikan dalam hidupku. Pada masa dulu, Republik Ceko atau apapun namanya sebelum saat ini merupakan kekuatan yang besar dalam perkembangan Kekristenan, seperti sejumlah kawasan lain di Eropa. Akan tetapi, kenyataan sejarah berbicara lain di negara ini sekarang. Perubahan besar ke arah berlawanan membuat mayoritas atheis berkembang pesat. Saya tidak mengatakan bahwa orang atheis tidak baik atau tidak bermoral. Mereka justru mungkin lebih baik dari sebagian kita yang beragama tetapi ke mana mereka akan pergi setelah kehidupan di dunia ini? Firman Tuhan mengatakan “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanm.” (Yeremia 29:17). Itulah salah satu tanggung jawab kita semua sebagai orang percaya dimanapun kita berada. Tidak hanya untuk kita saat ini tetapi juga keturunan kita yang akan melanjutkan generasi ini. Tuhan Yesus memberkati.
Ada beberapa tempat yang saya kunjungi dalam perjalanan kali ini. Salah satunya adalah Kutna Hora yang terletak sekitar 70 km sebelah timur Praha, ibukota Republik Ceko. Kota ini adalah sebuah kota kecil yang harus ditempuh sekitar 1 jam lebih dari Praha dengan kereta api seharga 136 Kc pp (sekitar Rp. 80.000,-). Sembari ditemani oleh seorang teman yang keturunan asli Indonesia tetapi berkewarganegaraan Perancis, kami berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Hlavní nádraží (stasiun utama) dengan bermodalkan kamera dan sarapan berupa Pribinacek – semacam yogurt, Párek v rohlíku – hotdog dan sebotol Perlivá voda – sparkling water. Perjalanan kali ini merupakan kesekian kalinya saya menggunakan kereta untuk mengawalinya. Hal ini tentu membuat saya tidak lagi canggung, apalagi saya sudah mampu sedikit berbahasa Ceko yang sangat kompleks itu. Saya patut bersyukur atas hal ini.
Cathedral of Our Lady dan Kostnice – Gereja Tengkorak
Sekitar pukul 10 kami tiba di Kutna Hora bersama sejumlah turis lain dari berbagai bangsa. Sepertinya kami semua punya satu kesepakatan, yaitu kembali ke Praha pada petang hari. Kira-kira seperti itulah yang saya tangkap dari percakapan sepasang turis asal Inggris. Kami pun langsung berjalan kaki sekitar 1 km menuju 2 gereja yang cukup bersejarah. Kami langsung terpukau dengan Cathedral of Our Lady atau Katedrála Nanebevzetí Panny Marie dalam bahasa Ceko karena bentuknya yang ramping tapi megah. Gereja ini ternyata menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage. Hal terunik dari gereja ini adalah pemandangan ketika kita pertama kali masuk altarnya. Menurut ibu penjaga yang berada di sana, altar yang beratap tinggi ini akan semakin menarik pada musim semi dan gugur, di mana pantulan cahaya matahari membuat altar begitu terang terfokus dibanding sisi sekitarnya.
Setelah itu, kunjungan kami langsung mengarah ke Kostnice, Sedlec, yang sangat terkenal karena terdapat kumpulan tengkorak manusia yang sengaja rapi disusun di bawah gereja. Letaknya pun di tengah lahan pemakaman keluarga dari masa lampau. Belum dapat dipastikan sejak kapan bangunan ini dibangun. Akan tetapi, ada data pasti yang menyatakan bahwa tengkorak yang terdapat di situ merupakan tengkorak para prajurit pada masa Perang Hussite tahun 1421-1424 di mana terdapat bekas pedang, cambuk, tongkat dan panah pada sejumlah tengkorak. Hussite sendiri merupakan perang yang diawali oleh pemikiran seorang Jan Hus yang menentang beberapa keabsolutan Gereja Katolik, seperti pengampunan dosa dengan cara membayar uang. Kisahnya memang mirip dengan Martin Luther. Satu hal yang membuat saya penasaran adalah mengapa tengkorak ini perlu dipajang mirip pameran? Pemandu yang ada di situ pun menjawab bahwa tujuan hal ini adalah untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia. Sekuat dan sehebat apapun seorang manusia, kita tetap harus menghadapi kematian. Pameran tengkorak ini mengingatkan kita bahwa manusia itu memang tidak layak bersikap arogan karena seluruh hidup kita memang bergantung pada Tuhan saja. Pemaparan ini cukup bertentangan jika kita melihat kenyataan saat ini bahwa mayoritas penduduk Ceko adalah Atheist.
Perjalanan kami pun harus berlanjut ke Centrum atau pusat kota yang cukup jauh. Oleh karena itu, kami bertanya ke Info Center yang ada di dekat Kostnice. Ia memberikan peta dan menunjukkan jalan kepada kami dengan sangat ramah, tidak seperti orang Ceko pada umumnya. Uniknya, selain memperoleh informasi gratis, saya pun mendapat hadiah berupa DVD dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk Indonesia, yang mengisahkan permulaan dunia sampai kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Ia sebenarnya tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang Kristen namun dengan berani Ia menyatakan bahwa Yesuslah satu-satunya juru selamat manusia untuk memperoleh hidup kekal. Kembali saya terhenyak akan hal ini. Saya tidak pernah menemui kesaksian yang berani seperti ini dari lidah orang Ceko selama hampir satu tahun berada di Praha.
Menu Siang diakhiri di Santa Barbara
Kami langsung menumpang bus kota untuk menuju pusat kota Kutna Hora. Sebelum melangkah lebih jauh, kami pun berhenti di Restaurant Mincovna di Hotel Opat tanpa mengetahui referensi apapun tentang makanan di sana. Restoran yang cukup nyaman untuk makan siang tanpa ada pengunjung lain selain kami berdua. Saya pun memesan Topinkové hranolky s česnekem (roti tawar yang digoreng dengan olive oil dan bawang putih), sepiring Chicken grill with blue cheese cream dan secangkir teh hangat. Jujur, bentuk kurang menarik tetapi rasanya enak luar biasa! Bahkan saya masih ingat rasanya kalau melihat foto-foto di Kutna Hora. Harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran negara-negara Eropa. It was the best lunch I’ve ever had!
Langkah kami pun berlanjut menuju Jesuit College yang juga cukup terkenal di kota ini. Perjalanan ke sana pun semakin spektakuler karena kami melewati Kamenná kašna (semacam tugu di perempatan jalan), České muzeum stříbra-Hrádek (Museum perak megah yang kebetulan sedang tutup) dan toko barang antik (Antikvariat) untuk membeli sejumlah kartu pos kuno. Kebetulan saya adalah seorang kolektor kartu pos karena selain murah, gambar yang disajikan begitu indah dan cukup sulit didapatkan dengan menggunakan kamera biasa. Tibalah kami di sisi samping Jesuit College (Jezuitska Kolej) yang dibangun dengan arsitektur gaya Baroque setelah kedatangan kamu Jesuit yang cukup membawa perubahan di kota tersebut pada tahun 1626.
Di depan Jesuit College, kami langsung dapat melihat keindahan Gereja Katedral St. Barbara (Velechrám sv.Panny Barbory) yang begitu menakjubkan dengan banyak tower mungil yang mengelilingi atap gereja. Biaya untuk masuk dan menikmati kemegahan gereja tersebut adalah 85 Kc atau sekitar Rp. 40.000,- yang memang cukup aneh karena biasanya kita tidak perlu membayar untuk masuk sebuah gereja tetapi saya tidak mau terlalu lama mempertanyakan hal ini. Anggap saja hal ini wajar di sejumlah tempat. Gereja ini ternyata dibangun oleh sejumlah arsitek yang berbeda abad. Pembangunan pertama dimulai pada tahun 1388 oleh Jan Parler dengan hanya satu bagian yaitu The Presbytery. Kemudian berkembang hingga tahun 1773 menjadi 13 bagian kapel di sekeliling ruang jemaat. Info yang menarik dari penjaga gereja adalah bahwa gereja ini dibangun oleh para penambang perak yang datang pada tahun 1142 setelah melepaskan diri dari pengaruh kaum Cistercian yang berpusat di gereja sebelumnya, Cathedral of Our Lady. Tidak heran jika di bagian tengah kursi jemaat terdapat patung penambang yang cukup besar. Hal yang membuat saya kagum adalah rentang waktu yang amat panjang dalam proses pembangunan dan penyempurnaan gereja tersebut yang disertai oleh kesetiaan jemaatnya pada masa itu.
Dari gereja katedral Santa Barbara, kami langsung mengambil jalan menuju halte bus terdekat untuk kembali ke stasiun mengejar kereta pukul 5 sore yang menuju Praha. Dalam perjalanan pulang, saya sejenak berdoa dan merenungkan kebaikan Tuhan karena saya dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, di mana kepercayaan saya bukanlah menjadi mayoritas. Saya memang patut bersyukur karena setiap tantangan yang ada dan kualami ternyata membuat saya semakin kuat di dalam proses yang Tuhan berikan dalam hidupku. Pada masa dulu, Republik Ceko atau apapun namanya sebelum saat ini merupakan kekuatan yang besar dalam perkembangan Kekristenan, seperti sejumlah kawasan lain di Eropa. Akan tetapi, kenyataan sejarah berbicara lain di negara ini sekarang. Perubahan besar ke arah berlawanan membuat mayoritas atheis berkembang pesat. Saya tidak mengatakan bahwa orang atheis tidak baik atau tidak bermoral. Mereka justru mungkin lebih baik dari sebagian kita yang beragama tetapi ke mana mereka akan pergi setelah kehidupan di dunia ini? Firman Tuhan mengatakan “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanm.” (Yeremia 29:17). Itulah salah satu tanggung jawab kita semua sebagai orang percaya dimanapun kita berada. Tidak hanya untuk kita saat ini tetapi juga keturunan kita yang akan melanjutkan generasi ini. Tuhan Yesus memberkati.
16.9.12
Bahana, April 2010
Hari ini entah kenapa saya menemui sejumlah artikel yang pernah saya tulis pada masa kuliah dulu. Dan salah satu yang pertama dan "menyentuh" adalah kesaksian saya di Majalah Rohani Bahana dengan memakai nama Raka Tantra Pamungkas hehe :)
Note: Sempat ketawa juga baca artikel ini lagi, masih penulis awal dan awam alias amatiran.
Berikut artikel lengkapnya
PRAHA: Kota yang (Baru Saja) Bebas itu Sangat Indah
Dobrý den, jak se máte? (dibaca: Halo, apa kabar?) Itu adalah sapaan yang biasa diberikan oleh orang Ceko. Praha adalah ibukota Republik Ceko. Saya dapat belajar di Praha karena berkat Tuhan yang melimpah. Ini semua anugerah-Nya. Awalnya saya mengikuti seleksi untuk Exchange Student ke Metropolitan University Prague (MUP) di Republik Ceko. Sebenarnya, program ini adalah kerjasama antara jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta dengan KBRI Praha dan MUP. Puji Tuhan, saya merupakan satu-satunya mahasiswa yang terpilih mengikuti program ini. Di sini saya mengambil kuliah semester 6, jurusan International Relations and European Studies.
Ada Apa Dengan Ceko
Sebelum berangkat kekhawatiran dan pertanyaan muncul dalam benak. Terbesit pertanyaan “Bagaimana kehidupan saya di sana nanti?”, terutama untuk kehidupan rohani dan hubungan pribadi saya bersama Yesus Kristus. Republik Ceko adalah bekas negara Uni Soviet dan pada tahun 1993 mengalami perpisahan secara damai dengan Slovakia melalui Velvet Revolution. Jadi perlu sedikit diperhatikan bahwa sekarang sudah tidak ada lagi negara Cekoslovakia. Mayoritas penduduknya adalah atheis akibat dari pengaruh komunis pada masa lalu. Meskipun demikian, bangunan megah gereja Katolik masih berdiri kokoh di seluruh Praha dan Ceko. Sayangnya, sebagian besar dari gereja tersebut sudah tidak berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan untuk tujuan wisata. Republik Ceko sendiri terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu Bohemia, Moravia dan Silesia. Masyarakat Moravia di sebelah tenggara dan selatan, terkenal lebih ramah, tradisional dan taat beribadah dibandingkan dengan Bohemia, di mana Praha termasuk di dalamnya.
Tidak hanya teman dari Ceko saja yang saya kenal di sini. Justru teman-teman program Erasmus dari beberapa negara Eropa, yang saya kenal dengan lebih dekat. Satu sisi menyenangkan mempunyai teman baru dengan kebiasaan dan budaya yang unik. Akan tetapi, ini juga merupakan tantangan besar bagi saya. Mereka bersahabat dengan cara mereka dan saya harus menghormatinya. Mereka sangat suka nongkrong di bar atau Hozpoda (warung makan khas Ceko), untuk berbincang satu sama lain pada malam hari (biasanya mulai jam 22.00 sampai pagi) dengan ditemani oleh bir! Masyarakat Ceko adalah salah satu produsen dan konsumen terbesar di Eropa untuk minuman beralkohol. Bir yang terkenal di sini adalah Pilsner Urquell atau Gambrinus, dan daerah Moravia merupakan penghasil wine yang sangat terkenal.
Rohlik, Kobliha, dan Goulash
Awalnya takut untuk terus bergaul. Akan tetapi, saya tidak bisa menyangkal bahwa saya butuh teman. Jadi yang saya lakukan adalah bergaul dengan batas-batas tertentu, seperti tidak lebih dari jam 12 malam atau tidak minum bir sampai mabuk. Pada masa Winter di bulan Januari dan Februari, bagi saya cukup logis untuk meminum bir atau wine sebagai penghangat, karena suhu di sini selalu minus setiap malam. Saya setuju bahwa suatu hal yang bodoh jika meminum alkohol di Indonesia, yang udaranya panas dengan suhu sekitar 30-32 derajat Celcius. Sampai saat ini, teman-teman saya dari Eropa sangat memahami perbedaan budaya yang terjadi di antara kami. Teman saya yang berasal dari Asia di sini hanyalah dari Taiwan, Turki dan warga keturunan Vietnam.
Selain terkenal dengan bir-nya, Ceko juga cukup terkenal dengan beberapa makanan khasnya, seperti Goulash, Kobliha dan Rohlik. Pertama kali memakannya, saya rasa mual dan aneh. Alasannya karena Goulash dibuat seperti sup berlemak mirip gulai dengan minyak yang sangat banyak, rasa daging babi yang khas, dan bumbunya begitu pekat. Kobliha adalah roti biasa (sepeti donat) yang di dalamnya diisi dengan buah blueberry segar yang rasanya sedikit asam. Sedangkan, Rohlik merupakan makanan pokok bagi warga Ceko yang sebenarnya adalah roti plain biasa dengan harga sekitar 1 Crown (Rp. 500,-), makanan pokok lainnya adalah Dumplings.
Dumplings serupa dengan Rohlik yang terbuat dari kentang dan tepung, cara memasak dumplings yaitu dengan dikukus. Semua makanan itu aneh saat pertama mencicipinya. Akan tetapi, sekarang hamper setiap hari saya memakan Rohlik untuk sarapan, beberapa Kobliha untuk makan siang di kampus dan kadang Goulash di malam hari. Uenak tuenan! Mantap! Hahaha……
Praha dan Peninggalan Sejarah
Praha memang terkenal sebagai kota yang cantik di seluruh dunia, ditambah lagi dengan transportasi yang sangat baik, seperti bus, tram dan metro. Tujuan wisata yang cukup terkenal di kota Praha adalah Prague Castle Area, Charles Bridge yang terkenal dengan patung Yesus di atas kayu salibnya, Old Town Square (memiliki Astronomical Watch yang ada di Balai Kota), Lesser Town, Jewish Quarter, Vaclavske Namesti dan Narodni Muzeum. Semuanya luar biasa indah. Beberapa bangunan terkenal juga ada di Praha, antara lain adalah Jembatan Charles atau Karluvmost dalam bahasa setempat dan Menara Televisi Žižkov.
Oleh-oleh khas Ceko yang terkenal, antara lain Bohemian crystal, batu Granite, anggur Moravia, batu Amber dari Ostrava dan beberapa suvenir lainnya. Selain Praha, kota-kota di luarnya juga tidak kalah cantik. Sampai saat ini saya sudah pernah mengunjungi Pardubice, Ceske Budejovice, Benatky, Ostrava, Boretice dan Slavkov. Saya sangat merekomendasikan kota Pardubice dan Ceske Budejovice, karena kota ini mempunyai kastil nan megah dan indah bak di negeri dongeng.
Menara Televisi Žižkov merupakan pusat perhatian di Praha, ibukota Ceko. Menara ini dibangun antara 1985 dan 1992. Menara yang menjulang di angkasa kota Praha ini berada di distrik Zizkov, yang merupakan asal mula nama menara itu. Menara ini digunakan sebagai observatorium meteorologi. Pada tahun 2000, seorang seniman Ceko David Černý membuat pahatan-pahatan bayi yang sedang merangkak naik dan turun, kemudian dipasang di pilar-pilar menaranya. Terlihat sangat unik.
Pardubice adalah kota yang terletak di sebelah utara Ceko, 65 mil sebelah timur Praha. Di sana berdiri istana Pardubice yang sudah di renovasi. Tahukah Anda permainan unik dan asyik di Pardubice? Hoki es adalah permainan yang digemari di sana. Hoki ada di Pardubice sejak awal abad ke-20. HC Pardubice adalah klub Hoki terkenal di sana. Heem...sebut saja Josef Paleček, Vladimír Martinec merupakan nama-nama pemain terbaik di klub Hoki.
Ceske Budejovice terletak di sebelah selatan Ceko. Ceske budejovice adalah kota terbesar di daerah Bohemia Selatan. Di sinilah pusat komersial politik serta ibukota dari daerah dan pusat Keuskupan Katolik Roma. Kota tua ini mempertahankan arsitektur menarik dari Gothic, Renaissance, Baroque di periode abad ke-19. Ini termasuk gedung-gedung di sekitar alun-alun kota besar, balai kota tua dengan mural, perunggu gargoyle, dan kota menara “Cerna vez” ( “Black Tower”). Bangunan bersejarah di České Budějovice adalah Dominika biara dengan gereja Gothic Presentasi Piaristic Perawan Maria di alun-alun dan Kastil Hluboka nad Vltavou.
Pastor John Waldrop
Walaupun berada di negara dengan mayoritas penduduk Atheis, saya bersyukur karena masih ada gereja internasional berbahasa Inggris. Saat ini, saya beribadah di International Church of Prague dan mengikuti komunitas sel setiap hari Jumat. Di sinilah saya merasa damai sejahtera dan dikuatkan dalam pergumulan hidup sehari-hari, baik masalah kuliah atau pergaulan di Praha. Hal yang mengejutkan bagi saya adalah ketika gembala sidang ICP, Pastor John Waldrop langsung mengirim email kepada saya pada malam hari. Beliau menanyakan pergumulan hidup saya dan apa yang bisa ia bantu serta doakan. Semua ini karena anugerah Tuhan Yesus. Saya berangkat dengan pegangan satu ayat, yaitu “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3: 23). Tuhan Yesusku memang dahsyat dan ajaib.
Note: Terima kasih untuk Okta yang sudah membantu "bersaksi"
Note: Sempat ketawa juga baca artikel ini lagi, masih penulis awal dan awam alias amatiran.
Berikut artikel lengkapnya
PRAHA: Kota yang (Baru Saja) Bebas itu Sangat Indah
Dobrý den, jak se máte? (dibaca: Halo, apa kabar?) Itu adalah sapaan yang biasa diberikan oleh orang Ceko. Praha adalah ibukota Republik Ceko. Saya dapat belajar di Praha karena berkat Tuhan yang melimpah. Ini semua anugerah-Nya. Awalnya saya mengikuti seleksi untuk Exchange Student ke Metropolitan University Prague (MUP) di Republik Ceko. Sebenarnya, program ini adalah kerjasama antara jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta dengan KBRI Praha dan MUP. Puji Tuhan, saya merupakan satu-satunya mahasiswa yang terpilih mengikuti program ini. Di sini saya mengambil kuliah semester 6, jurusan International Relations and European Studies.
Ada Apa Dengan Ceko
Sebelum berangkat kekhawatiran dan pertanyaan muncul dalam benak. Terbesit pertanyaan “Bagaimana kehidupan saya di sana nanti?”, terutama untuk kehidupan rohani dan hubungan pribadi saya bersama Yesus Kristus. Republik Ceko adalah bekas negara Uni Soviet dan pada tahun 1993 mengalami perpisahan secara damai dengan Slovakia melalui Velvet Revolution. Jadi perlu sedikit diperhatikan bahwa sekarang sudah tidak ada lagi negara Cekoslovakia. Mayoritas penduduknya adalah atheis akibat dari pengaruh komunis pada masa lalu. Meskipun demikian, bangunan megah gereja Katolik masih berdiri kokoh di seluruh Praha dan Ceko. Sayangnya, sebagian besar dari gereja tersebut sudah tidak berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan untuk tujuan wisata. Republik Ceko sendiri terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu Bohemia, Moravia dan Silesia. Masyarakat Moravia di sebelah tenggara dan selatan, terkenal lebih ramah, tradisional dan taat beribadah dibandingkan dengan Bohemia, di mana Praha termasuk di dalamnya.
Tidak hanya teman dari Ceko saja yang saya kenal di sini. Justru teman-teman program Erasmus dari beberapa negara Eropa, yang saya kenal dengan lebih dekat. Satu sisi menyenangkan mempunyai teman baru dengan kebiasaan dan budaya yang unik. Akan tetapi, ini juga merupakan tantangan besar bagi saya. Mereka bersahabat dengan cara mereka dan saya harus menghormatinya. Mereka sangat suka nongkrong di bar atau Hozpoda (warung makan khas Ceko), untuk berbincang satu sama lain pada malam hari (biasanya mulai jam 22.00 sampai pagi) dengan ditemani oleh bir! Masyarakat Ceko adalah salah satu produsen dan konsumen terbesar di Eropa untuk minuman beralkohol. Bir yang terkenal di sini adalah Pilsner Urquell atau Gambrinus, dan daerah Moravia merupakan penghasil wine yang sangat terkenal.
Rohlik, Kobliha, dan Goulash
Awalnya takut untuk terus bergaul. Akan tetapi, saya tidak bisa menyangkal bahwa saya butuh teman. Jadi yang saya lakukan adalah bergaul dengan batas-batas tertentu, seperti tidak lebih dari jam 12 malam atau tidak minum bir sampai mabuk. Pada masa Winter di bulan Januari dan Februari, bagi saya cukup logis untuk meminum bir atau wine sebagai penghangat, karena suhu di sini selalu minus setiap malam. Saya setuju bahwa suatu hal yang bodoh jika meminum alkohol di Indonesia, yang udaranya panas dengan suhu sekitar 30-32 derajat Celcius. Sampai saat ini, teman-teman saya dari Eropa sangat memahami perbedaan budaya yang terjadi di antara kami. Teman saya yang berasal dari Asia di sini hanyalah dari Taiwan, Turki dan warga keturunan Vietnam.
Selain terkenal dengan bir-nya, Ceko juga cukup terkenal dengan beberapa makanan khasnya, seperti Goulash, Kobliha dan Rohlik. Pertama kali memakannya, saya rasa mual dan aneh. Alasannya karena Goulash dibuat seperti sup berlemak mirip gulai dengan minyak yang sangat banyak, rasa daging babi yang khas, dan bumbunya begitu pekat. Kobliha adalah roti biasa (sepeti donat) yang di dalamnya diisi dengan buah blueberry segar yang rasanya sedikit asam. Sedangkan, Rohlik merupakan makanan pokok bagi warga Ceko yang sebenarnya adalah roti plain biasa dengan harga sekitar 1 Crown (Rp. 500,-), makanan pokok lainnya adalah Dumplings.
Dumplings serupa dengan Rohlik yang terbuat dari kentang dan tepung, cara memasak dumplings yaitu dengan dikukus. Semua makanan itu aneh saat pertama mencicipinya. Akan tetapi, sekarang hamper setiap hari saya memakan Rohlik untuk sarapan, beberapa Kobliha untuk makan siang di kampus dan kadang Goulash di malam hari. Uenak tuenan! Mantap! Hahaha……
Praha dan Peninggalan Sejarah
Praha memang terkenal sebagai kota yang cantik di seluruh dunia, ditambah lagi dengan transportasi yang sangat baik, seperti bus, tram dan metro. Tujuan wisata yang cukup terkenal di kota Praha adalah Prague Castle Area, Charles Bridge yang terkenal dengan patung Yesus di atas kayu salibnya, Old Town Square (memiliki Astronomical Watch yang ada di Balai Kota), Lesser Town, Jewish Quarter, Vaclavske Namesti dan Narodni Muzeum. Semuanya luar biasa indah. Beberapa bangunan terkenal juga ada di Praha, antara lain adalah Jembatan Charles atau Karluvmost dalam bahasa setempat dan Menara Televisi Žižkov.
Oleh-oleh khas Ceko yang terkenal, antara lain Bohemian crystal, batu Granite, anggur Moravia, batu Amber dari Ostrava dan beberapa suvenir lainnya. Selain Praha, kota-kota di luarnya juga tidak kalah cantik. Sampai saat ini saya sudah pernah mengunjungi Pardubice, Ceske Budejovice, Benatky, Ostrava, Boretice dan Slavkov. Saya sangat merekomendasikan kota Pardubice dan Ceske Budejovice, karena kota ini mempunyai kastil nan megah dan indah bak di negeri dongeng.
Menara Televisi Žižkov merupakan pusat perhatian di Praha, ibukota Ceko. Menara ini dibangun antara 1985 dan 1992. Menara yang menjulang di angkasa kota Praha ini berada di distrik Zizkov, yang merupakan asal mula nama menara itu. Menara ini digunakan sebagai observatorium meteorologi. Pada tahun 2000, seorang seniman Ceko David Černý membuat pahatan-pahatan bayi yang sedang merangkak naik dan turun, kemudian dipasang di pilar-pilar menaranya. Terlihat sangat unik.
Pardubice adalah kota yang terletak di sebelah utara Ceko, 65 mil sebelah timur Praha. Di sana berdiri istana Pardubice yang sudah di renovasi. Tahukah Anda permainan unik dan asyik di Pardubice? Hoki es adalah permainan yang digemari di sana. Hoki ada di Pardubice sejak awal abad ke-20. HC Pardubice adalah klub Hoki terkenal di sana. Heem...sebut saja Josef Paleček, Vladimír Martinec merupakan nama-nama pemain terbaik di klub Hoki.
Ceske Budejovice terletak di sebelah selatan Ceko. Ceske budejovice adalah kota terbesar di daerah Bohemia Selatan. Di sinilah pusat komersial politik serta ibukota dari daerah dan pusat Keuskupan Katolik Roma. Kota tua ini mempertahankan arsitektur menarik dari Gothic, Renaissance, Baroque di periode abad ke-19. Ini termasuk gedung-gedung di sekitar alun-alun kota besar, balai kota tua dengan mural, perunggu gargoyle, dan kota menara “Cerna vez” ( “Black Tower”). Bangunan bersejarah di České Budějovice adalah Dominika biara dengan gereja Gothic Presentasi Piaristic Perawan Maria di alun-alun dan Kastil Hluboka nad Vltavou.
Pastor John Waldrop
Walaupun berada di negara dengan mayoritas penduduk Atheis, saya bersyukur karena masih ada gereja internasional berbahasa Inggris. Saat ini, saya beribadah di International Church of Prague dan mengikuti komunitas sel setiap hari Jumat. Di sinilah saya merasa damai sejahtera dan dikuatkan dalam pergumulan hidup sehari-hari, baik masalah kuliah atau pergaulan di Praha. Hal yang mengejutkan bagi saya adalah ketika gembala sidang ICP, Pastor John Waldrop langsung mengirim email kepada saya pada malam hari. Beliau menanyakan pergumulan hidup saya dan apa yang bisa ia bantu serta doakan. Semua ini karena anugerah Tuhan Yesus. Saya berangkat dengan pegangan satu ayat, yaitu “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3: 23). Tuhan Yesusku memang dahsyat dan ajaib.
Note: Terima kasih untuk Okta yang sudah membantu "bersaksi"
Kedaulatan Rakyat, 7 Juni 2011
Kaget, bingung dan bangga. Itulah perasaan yang muncul ketika seorang teman menelepon saya pagi hari pada tanggal 7 Juni 2011. Seperti biasanya, saya masih menikmati udara pagi di sekitar kompleks, tempat di mana saya menyewa kost yang baru di Surabaya. Katanya, "terima kasih sudah menginspirasi, beritamu telah naik hari ini di Kedaulatan Rakyat sebagai tugas akhir magang saya." Memang beberapa saat sebelumnya dia sempat menelepon dan menanyakan beberapa hal. But I never thought it's such a thing to be posted on national newspaper! Tapi demikianlah yang terjadi.
Dan hari ini, tanpa sengaja saya membacanya ketika mencari data di google. Kira-kira beginilah beritanya. Fun to record! tidak setiap hari terjadi, kan?!?
MAHASISWA BERPRESTASI: Berani Buang Zona Nyaman
Kesuksesan dan prestasi seringkali bersinggungan dengan nilai-nilai daya juang, kerja keras dan prinsip hidup. Jarang ada, orang sukses dan berprestasi karena unsur kebetulan atau dihasilkan melalui jalur kenyamanan. Demikian pula dengan Raka Tantra Dwieqy Pamungkas. Anak muda yang diwisuda januari 2011 lalu, kini telah bekerja sebagai overseas education counselor di AUG Global Network Cabang Surabaya, yang berkantor pusat di Meulbourn, Australia. Karena filosofi hidup yang dipegangnya, Raka saat mahasiswa memperoleh sejumlah keberhasilan. Ia dipercaya sebagai delegasi Indonesia pada International Youth Leadership Conference (IYLC) ke-20 di Praha, ceko, 11-16 Juli lalu. IYLC adalah wadah untuk mengumpulkan pemuda dari seluruh dunia untuk duduk dan diskusi bersama. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi Civic Concept International ini bertujuan untuk menemukan ide dari pemuda di dunia guna membahas isu dunia terbaru yang mendesak, seperti Human Rights Violation, Nuclear, dll.
Keuletan pemuda kelahiran Balik Papan, 9 agustus 1989 ini juga tercermin dari anugrah “Karya Cendikia,”yang pernah diterimanya dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN), karena tulaisan dalam skripsinya yang berjudaul “The Rasionalist Reasons to The Disparity of Benefits Within Eastern Partnership”. Tentu ini istimewa, karena biasanya mahasiswa S1 membuat skripsi berbahasa Indonesia, tetapi Raka membuat terobosan menulis skripsi dalam bahasa inggris.
“Kesuksesannya” itu tak luput dari motto hidup yang selalu dipegangnya “enjoy this life by doing my best”. Menurut Raka, ada tiga faktor yang mempengaruhi kesuksesannya itu. Pertama, harus menemukan apa tujuan hidup, lalu fokus dengan tujuan itu. Dengan begitu kita tahu kemana harus melangkah, serta lebih mudah mencapai garis finish. Kedua, go beyond your comfort zone. Artinya, harus keluar dari zona nyaman, berani mengembangkan diri. Jika tidak berani mengambil suatu langkah, mana mungkin ada perubahan?Terakhir tentunya adalah campur tangan Tuhan. Bagi Raka, keterlibatannya dalam “International Youth Leadership Conference”(IYLC) di Praha, Ceko, adalah kegiatan yang positif. Bahkan hasil sidang khusus European Parliament di referensikan ke Uni Eropa sebagai bahan pertimbangan. Dengan mengikuti kegiatan ini, Raka dapat memperluas jaringannya hingga hampir ke seluruh pelosok Dunia.
Untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut, proses seleksinya cukup ketat. Penyelenggara menilai prestasi akademik dan non akademik yang dilihat dari profil calon peserta yang dikirim beserta esay singkat tentang sejumlah isu di dunia. Saat itu Raka menulis tentang krisis air di Pulau Alor, NTT. Krisis air yang berkepanjangan ini pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup masyarakatnya, terutama dalam bidang pendidikan. Tidak heran jika NTT beberapa kali meraih peringkat terendah untuk tingkat kelulusan UN seluruh Indonesia. Dengan tulisan yang mampu membawanya ke ajang IYLC itu, Raka juga berharap kepada pemerintah Indonesia bahkan dunia, untuk memperhatikan Indonesia timur, tidak melalui javacentris. Selain mengikuti ajang IYLC, Raka juga mendapatkan kehormatan serta kesempatan yang langka untuk mengikuti program magang di KBRI Ceko.
Ingin seperti Raka? Tinggalkanlah “Zona Nyaman” Sekarang juga!
Note: Many thanks for my dear friend, Hanita Meirawati :D
Dan hari ini, tanpa sengaja saya membacanya ketika mencari data di google. Kira-kira beginilah beritanya. Fun to record! tidak setiap hari terjadi, kan?!?
MAHASISWA BERPRESTASI: Berani Buang Zona Nyaman
Kesuksesan dan prestasi seringkali bersinggungan dengan nilai-nilai daya juang, kerja keras dan prinsip hidup. Jarang ada, orang sukses dan berprestasi karena unsur kebetulan atau dihasilkan melalui jalur kenyamanan. Demikian pula dengan Raka Tantra Dwieqy Pamungkas. Anak muda yang diwisuda januari 2011 lalu, kini telah bekerja sebagai overseas education counselor di AUG Global Network Cabang Surabaya, yang berkantor pusat di Meulbourn, Australia. Karena filosofi hidup yang dipegangnya, Raka saat mahasiswa memperoleh sejumlah keberhasilan. Ia dipercaya sebagai delegasi Indonesia pada International Youth Leadership Conference (IYLC) ke-20 di Praha, ceko, 11-16 Juli lalu. IYLC adalah wadah untuk mengumpulkan pemuda dari seluruh dunia untuk duduk dan diskusi bersama. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi Civic Concept International ini bertujuan untuk menemukan ide dari pemuda di dunia guna membahas isu dunia terbaru yang mendesak, seperti Human Rights Violation, Nuclear, dll.
Keuletan pemuda kelahiran Balik Papan, 9 agustus 1989 ini juga tercermin dari anugrah “Karya Cendikia,”yang pernah diterimanya dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN), karena tulaisan dalam skripsinya yang berjudaul “The Rasionalist Reasons to The Disparity of Benefits Within Eastern Partnership”. Tentu ini istimewa, karena biasanya mahasiswa S1 membuat skripsi berbahasa Indonesia, tetapi Raka membuat terobosan menulis skripsi dalam bahasa inggris.
“Kesuksesannya” itu tak luput dari motto hidup yang selalu dipegangnya “enjoy this life by doing my best”. Menurut Raka, ada tiga faktor yang mempengaruhi kesuksesannya itu. Pertama, harus menemukan apa tujuan hidup, lalu fokus dengan tujuan itu. Dengan begitu kita tahu kemana harus melangkah, serta lebih mudah mencapai garis finish. Kedua, go beyond your comfort zone. Artinya, harus keluar dari zona nyaman, berani mengembangkan diri. Jika tidak berani mengambil suatu langkah, mana mungkin ada perubahan?Terakhir tentunya adalah campur tangan Tuhan. Bagi Raka, keterlibatannya dalam “International Youth Leadership Conference”(IYLC) di Praha, Ceko, adalah kegiatan yang positif. Bahkan hasil sidang khusus European Parliament di referensikan ke Uni Eropa sebagai bahan pertimbangan. Dengan mengikuti kegiatan ini, Raka dapat memperluas jaringannya hingga hampir ke seluruh pelosok Dunia.
Untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut, proses seleksinya cukup ketat. Penyelenggara menilai prestasi akademik dan non akademik yang dilihat dari profil calon peserta yang dikirim beserta esay singkat tentang sejumlah isu di dunia. Saat itu Raka menulis tentang krisis air di Pulau Alor, NTT. Krisis air yang berkepanjangan ini pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup masyarakatnya, terutama dalam bidang pendidikan. Tidak heran jika NTT beberapa kali meraih peringkat terendah untuk tingkat kelulusan UN seluruh Indonesia. Dengan tulisan yang mampu membawanya ke ajang IYLC itu, Raka juga berharap kepada pemerintah Indonesia bahkan dunia, untuk memperhatikan Indonesia timur, tidak melalui javacentris. Selain mengikuti ajang IYLC, Raka juga mendapatkan kehormatan serta kesempatan yang langka untuk mengikuti program magang di KBRI Ceko.
Ingin seperti Raka? Tinggalkanlah “Zona Nyaman” Sekarang juga!
Note: Many thanks for my dear friend, Hanita Meirawati :D
17.6.12
First Edition

Finally it's been published in the midst of June and excitement inside my feeling, up and down altogether. Yes, now I work as feature writer for HighEnd magazine and this June 2012 is my first edition after waiting for long moment. My dream simply just came true. Bear in mind and keep in your heart (LoL :D), I wrote for articles as below:
1. MEN: The Macho Musk
2. GARAGE: Fashionable Rides
3. HI-TECH: Tech Style
4. GREEN LIVING: Eco Romance
5. PROFILE: Tom Healy - Strong Community
6. WEALTH MANAGEMENT: Boasting Bintan
7. List 20 Fashionable People: Aimee Juliet, Angela Arifin, Lilin Halim, Fitria Yusuf, Dian Muljadi, Vera Trilaxmi, Sandra Angelia, Liliana Tanoesoedibjo, Cin-Cin Chandra, Wanda Ponika
Thankful God for all these... Me and Lord just did it well!!!
Besides for the readers, I present this edition for my 'United Colors' friend around the world. Thank you for sharing and encouragement for me to pursue one of my dreams, as writer. You're awesome guys, miss so bad....

Jakarta, June 2012
16.6.12
Bonjourno!

Dengan tenang ia berkata, “bukan maksudku untuk munafik, tapi tetap saja akhirat itu harus dipikirkan”. Ia pun kembali meneguk macchiato favoritnya.
Aku hanya tersenyum geli mendengar jawaban temanku yang sedang menjadi bintang pujaan di negeri ini, walaupun memang mulai sedikit redup sinarnya. Ia selalu pandai membuat hidupnya menjadi bahan berita yang bukan sembarangan tapi fenomenal.
“terus apa rencanamu sekarang?” tanyaku. “Segera saja kau tinggalkan kota ini sesaat, berlibur ke luar negeri atau ziarah jika perlu, tapi jangan ke Bangkok lagi!”
Ia pun tertawa dengan merdu dan sedikit menggelengkan kepala. Ia menegaskan bahwa tidak mungkin kota itu lagi yang dia tuju.
“Sudah terlalu banyak orang di negeri ini yang tahu hal itu, aku bukan orang bodoh lah!” katanya bersungguh-sungguh.
Aku pun langsung membuka laptop dan mencari tiket pesawat untuknya, yang pasti bukan maskapai utama negara ini. Ia sudah terlalu sering memakainya, wartawan sudah barang tentu akan mengejarnya demi berita provokatif. Semoga saja situasi ini membuatnya untuk tidak menolak tawaranku memakai low-cost airline favoritku. Lagi pula aku juga perlu berlibur sejenak setelah keluar dari kantorku minggu ini.
Sambil membaca-baca majalah perjalanan yang ada di café itu, ia pun sedikit tersenyum seperti mendapat pencerahan dari langit. “Bagaimana? Sudah menemukan tempat yang kau mau?” tanyaku.
Aku mengambil majalah yang dibacanya. “Roma! kita ke sana saja! Aku juga bisa mampir Vatikan untuk ziarah sebentar. Ini juga akan jadi berita bagus.” terangnya.
Keputusan yang tepat, pikirku. Temanku ini memang terlampau cerdas untuk sekedar mempertahankan popularitasnya sebagai penyanyi. Tiba-tiba saja sahabat kami, Prabu, sudah muncul dan langsung duduk di sebelahnya. Tanpa pikir panjang, ia pun memutuskan untuk ikut mendengar rencana kami. Profesinya sebagai penulis lepas majalah Life Style juga mengharuskannya mencari ide cemerlang di tempat semenarik Roma dan Vatikan.
“3 minggu lagi kita berangkat.” Mereka mengangguk. “aku akan cari tiket yang paling aman, nyaman dan murah. Hotel urusanmu Prabu! lalu Kenes akan menentukan tujuannya,” kataku sedikit memimpin.
Memang ini yang biasanya kita lakukan saat berlibur, namun bedanya kali ini Kenes membutuhkan waktu khusus untuk menenangkan diri lebih banyak dari masalah pemberitaan dirinya. Dan ziarah bisa menjadi kunci jawaban hidupnya sekaligus “provokasi” demi karirnya, setidaknya untuk lima tahun ke depan. Pundi-pundi bekal pension kurang lebih bisa dimaksimalkan juga.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
“Terminal 3, langsung masuk tol dalam kota ya pak!” perintahku pada supir taksi yang kami naiki.
“Ternyata kamu benar-benar serius membawa kami menjadi petualang sejati, Banyu. Apa kamu tidak ingat ada sosok ‘terhormat’ bersama kita saat ini?” Prabu bertanya padaku sambil memastikan bahwa perjalanan ini akan ditempuh ala backpacker.
“Kalian belum terlalu mengenal aku rupanya,” timpal Kenes langsung, penuh ketegasan. “Lihat saja nanti siapa yang akan bertahan tanpa mengeluh pada liburan ini.”
Berbeda dengan perjalanan yang biasa kami lakukan, aku memang sengaja merancang sedikit lebih seru dan menantang. Penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam – Eindhoven – Praha – Roma dengan maskapai yang berbeda. Konsekuensinya? Tentu saja harus keluar masuk urus bagasi dan tentu saja menjadi sangat lama. Tapi itu memang tujuan setiap kami, menghabiskan waktu bersama.
“Aku sudah membatalkannya,” Kenes membuka pembicaraan dalam kereta menuju Eindhoven di Belanda. “Itu keputusan yang kuambil, aku tidak mau berpura-pura menyangkal diri lagi. Permintaanya semakin hari semakin aneh, aku terjebak.”
Pernyataan yang membuat aku dan Prabu cukup kaget. Setahu kami tidak ada cerita sedih dalam diri Kenes selama tiga minggu ini, apalagi masalah pembatalan.
“Apa yang kamu maksud, Kenes? Pembatalan apa? Kontrak album?” Prabu bertanya dengan sedikit mendesak.
Dengan sedikit meneteskan air mata, Kenes pun memulai pengakuannya yang selama ini tengah ditutupinya. “Apa kalian ingat saat kita semua tertawa sinis kala menonton infotainment di tv? Ya, saat itu kita semua jijik ketika Banyu mengatakan salah seorang penyanyi dangdut sangat murahan. Jual diri untuk menjadi tenar dan kaya raya di mana gengsi menjadi pendorongnya.” Tatapan tajam Kenes yang berlinang mengiringi setiap katanya. “Kurang lebih itulah yang aku lakukan sekarang. Tidak lebih hormat dari biduanita dangdut itu.”
Mukaku pun merah padam, ingin rasanya aku pergi dan lompat meninggalkan kedua temanku. Sedih, kecewa dan perasaan bangga akan kejujuran Kenes meliputi seluruh batinku serta kelelahan raga ini.
“Bagaimana semua ini bisa terjadi?” tanyaku dengan sedikit menarik nafas untuk menenangkan diri. “Bukankah menjadi penyanyi adalah impianmu?! Kita semua ikut bersama perjuanganmu meraih kesuksesan saat ini kan.”
“Memang, tapi ini semua kumulai dari bantuan seorang pengusaha yang pernah media sebut berasal dari ‘antah berantah’, daerah yang tidak mungkin ada di pikiran kalian.” Kali ini Kenes sudah tidak mampu menahan air matanya. Penerbangan ke Praha dan Roma pun kami lalui dengan kesunyian, diam.
bersambung......
25.5.12
The Heart of Europe
Memorable, breathtaking and romantic are best words to describe Prague, the capital city of Czech Republic. It is the center of culture in Europe which always offers unique experience for everyone to visit. Prague is also known as the City of a Thousand Spires where ex-communism generation, cosmopolites and even liberalists mingle peacefully in modern shopping centre and old town square. No need to worry about high budget of pleasure as there are many interesting places are free to enjoy. Additionally, Czech Republic is one of few countries that are not colonized by unstable euro currency so that happiness is affordable for tourist.
Great period of Prague was started by King Charles IV in 1357, particularly when he built amazing historical bridge under his name in with Christian statues on the left and right side. Here is the place for musicians and artists to sell their stunning collection. After World War I, Prague was chosen as the capital city of the creation of Czechoslovakia, a central point of Europe on that moment. Next unforgettable history of Prague is communism era under the Soviet Union for more than forty years which suppressed any independence idea of Czech intellectual. Finally, this dark period of Prague was transformed by united student movement through peaceful demonstration called “Velvet Revolution” in 1989 that brought down the communist regime. Its history is both controversial and interesting to attract anyone not only taking great photos but also feeling deeply the ambiance of corner space in the city.
One of the main highlights in the city is Prague Castle where tourists start their journey on the high landscape and then step down to the Old Town (Staré město). The guide book definitely states that Prague Castle is the largest ancient castle in the world where the President of Czech Republic stays on day as well. St. Vitus Cathedral and Basilica St. George are the most stunning buildings must be visited. Do not forget to stop by at the charming small street with short houses, namely Golden Lane. Before going down to Prague’s Old Town square, beautiful scenery of the city would astonish our senses. Bear in mind to pay attention to the watch while visiting Old Town since free unique attraction in Astronomical Clock (Pražský orloj) will come up every hour. Another way to enjoy the trip here is by finding differences of two spires on the Church of Our Lady before Tyn which are not symmetrical. Notable place to take a look in old town is definitely center of the square where the home for Jan Hus Memorial statue, a religious reformer figures in Prague.
By free walking tours within 4-5 hours, it is easy to enjoy all memorial buildings and fun experience in Prague, including the people. The majority of the inhabitants in Prague are Czechs with their own characteristics which may mostly be found in the Wenceslas Square. It is the meeting point and popular shopping center for any circumstances, such as business, study group or just gossiping. Come inside to one café and mingle. Although most of them are friendly and welcoming, be aware that they are sometimes careful to unknown foreigners who greet and make introduction with any manners. It seems that past communism era is still there with old generation who grew up under this kind of memory. Do not worry too much about the gap language; almost all young people are able to speak English very fluently to help foreigners with their hospitality, if lucky. At least people here are aware that tourism is very vital to the nation’s economy in Prague as well as entire Czech Republic.
Famous for old delicious recipes, tourist should be ready to be surprised with specialties at Czech restaurant. Highly recommended is Svíčková na smetaně, roasted beef in sour cream with bread dumplings and served with slice of lemon, cranberry sauce and whipped cream topping. No wonder if fusion cuisine is found in a 1800s Czech cookbook. To be part of local culture in Prague, everyone must sit in any pub (hospoda) and order different brand of beer altogether. Pilsner Urquell, Gambrinus and Budweiser Budvar are internationally recognized Czech beers which must be provided in the city. Drinking beer is the first and easiest way to make friends in Prague as local people are always being proud of. Good to know that Czech Republic is in the highest rank of beer consumption in Europe and might be in the world.
The City of Prague is also the right place for pleasure seekers in the clubs. Its night life is always entertaining any kind of people, for real clubbing or just quick dance and late drink. Cocktail bars could be the meeting point to wait friends and plan your journey all night long in Prague. If classic bartending is not amusing enough, there are always dance clubs to be visited. This city is one of clubbing hot spots in Europe by attracting people with DJ’s from all over the world. Do not forget that pubs, traditional restaurants and fusion clubs are always there for anyone who getting bored with crowded noisy places. Enjoy nightlife in Prague!
Apart from these magnificent buildings and extravagant entertainment, Prague is much more than you ever imagined. Located in the heart of Europe, it is easy to reach Prague for tourist who is planning to take a long journey around Schengen countries. Spring and summer are recommended seasons to visit here, even though winter also offers its beauty of snow and pleasure in another way. There is also much to see outside the city, such as Český Krumlov which is enlisted as UNESCO World Heritage Site along with Prague Castle. With so much exciting attraction, the number of days seems never enough to explore the city. It offers you broad view of European experience, from melancholic history to the live performance in the clubs. The city is witness of majestic Baroque and Gothic as well as the fall of communism by memorable Velvet Revolution. Prague will surely make you keep precious moments deep in your heart day by day.
Langganan:
Postingan (Atom)










