23.10.13

Eksotisme Indonesia dipamerkan di Singapura



Singapura, 21 Oktober 2013 – Untuk kesekian kalinya, KBRI Singapura berhasil meningkatkan kerjasama ekonomi melalui berbagai kegiatan promosi perdagangan. Indonesia Fair kali ini telah dibuka secara resmi oleh Dubes RI untuk Singapura pada 18 Oktober 2013 dengan mengambil lokasi di Giant Tampines Singapura. “Petani Indonesia sebagai pemasok utama buah dan sayuran berkualitas asli produk Indonesia tentunya akan merasa sangat bangga karena produk yang mereka hasilkan sudah tersedia mulai hari ini di hypermarket terbesar di Singapura,” jelas Dubes Andri Hadi dalam pidato pembukaannya.

Pameran yang mengusung tema “The Exotic Taste of Indonesia” ini merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Agri-Food and Veterinary Authority of Singapore (AVA), Giant dan KBRI Singapura untuk mendukung promosi, pemasaran dan investasi kedua negara di sektor agribisnis. Singapura dengan keterbatasan lahan pertanian tentunya tidak mampu memenuhi permintaan pasar lokal yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Seperti yang disebutkan oleh Deputi CEO AVA Singapore, Lee Kwong Weng, bahwa Singapura memang harus melakukan impor lebih dari 90% produk pangan yang dikonsumsinya, termasuk dari Indonesia. “Ada tiga alasan mengapa Indonesia berperan penting bagi Singapura dalam hal ini: kedekatan posisi geografis, kualitas berbagai jenis produk pertanian Indonesia dan eratnya hubungan kerjasama ekonomi kedua negara,” ungkapnya.   

Selain itu, kegiatan pameran ini juga merupakan salah satu implementasi dari enam Bilateral Economic Working Groups yang telah disepakati oleh kedua kepala negara. Dubes Andri Hadi menjelaskan bahwa pameran ini merupakan sebuah konklusi kegiatan promosi ekonomi setelah pameran di Pasir Panjang Wholesale Center di bulan Mei dan NTUC FairPrice pada bulan September 2013. Kegiatan semacam ini pastinya akan terus dilanjutkan oleh KBRI Singapura dengan kerjasama yang intesif bersama sejumlah pihak terkait. “Dibandingkan tahun 2011, jumlah ekspor buah dan sayuran dari Indonesia ke Singapura telah mengalami peningkatan sekitar 8% yang mencapai 26.504 ton,” jelas Mesah Tarigan, Direktur Pemasaran Internasional, Kementerian Pertanian RI.
Dalam kesempatan tersebut, berbagai produk unggulan buah dan sayur asli Indonesia dipamerkan secara apik dan unik, seperti Durian Lay asli Kalimantan yang berwarna Oranye, Pepaya mini, Nanas Dewa, dan Alpukat jumbo. Pameran ini berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 Oktober 2013 dan telah menarik perhatian banyak pengunjung Giant Tampines sejak hari pertama. “Tanpa bantuan sektor privat - eksportir Indonesia, importir Singapura dan retailer, seperti Giant, kita tidak akan mampu mencapai berbagai target untuk meningkatkan impor buah dan sayuran dari Indonesia ke Singapura,” tutup Dubes Andri Hadi dalam pidatonya yang kemudian langsung dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Merak.      

13.9.13

Sebuah (Rencana) Perubahan

Pidato Kesan dan Pesan Peserta Sekdilu
Acara Penutupan Sekdilu Angkatan XXXVII
Jumat, 13 September 2013
Gedung Pancasila, Jakarta 


Yang terhormat, Bapak Menteri Luar Negeri,

Yang terhormat, Bapak dan Ibu pejabat eselon satu dan dua di Kementerian Luar Negeri,

Para widyaiswara, Bapak dan Ibu Duta Besar Pembina. Para hadirin sekalian yang saya hormati

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadi penyelamat hidup saya dari waktu ke waktu.

Sekitar 10 tahun yang lalu, ketika saya sedang bingung menentukan cita-cita, orang tua saya mengatakan,”menjadi apapun nantinya kamu, satu hal yang patut selalu diingat, kamu harus membawa perubahan yang positif bagi lingkunganmu, bangsamu dan dunia di mana kamu berpijak.” Singkat cerita, saya kemudian memutuskan dengan penuh kesadaran untuk menjadi diplomat. Alasannya sederhana, diplomat adalah pekerjaan yang memungkinkan saya untuk mengubah bangsa ini di tengah kondisi dunia yang ada.

Setelah lulus dari Ilmu Hubungan Internasional, UPN “Veteran” Yogyakarta, pada awal 2011. Orang tua saya kembali berpesan: “Sebelum mengubah dunia, ini saatnya kamu yang berubah terlebih dahulu, banyak belajar dan bersiaplah hadapi seluruh proses yang ada, hanya ada kamu dan Tuhanmu”.

Ketika masuk dunia kerja, saya memang cukup banyak belajar dengan memulai karir sebagai jurnalis di sebuah media nasional. Namun, syukur kepada Tuhan, perubahan saya semakin nyata ketika saya memulai babak baru hidup saya di Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan 37, mimpi saya yang mulai mendekati nyata menjadi seorang diplomat bergaung bersama mimpi teman-teman yang serupa.

Untuk itu, saya mewakili seluruh teman-teman Sekdilu 37 mengucapkan terima kasih kepada Bapak Duta Besar Hazairin Pohan selaku Kepala Pusdiklat, Bapak Dr. Ben Perkasa Drajat sebagai Direktur Sekdilu, Bapak Muhammad Abdullah, Ibu Hartanti, Ibu Endang, Mba Vareta, Chicha, Ibu Yeti, Bapak Haryono, Bapak Herman dan seluruh staf UPT Pusdiklat yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Saya juga bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Dubes Pembina Sunten Manurung serta seluruh Dubes Pembina Sekdilu 37 atas bimbingannya, dan pastinya kepada seluruh teman-teman seangkatan yang amat saya cintai dan telah mau menjadi bagian dari perubahan hidup saya hingga saat ini dan terus adanya di masa depan. Percayalah, kalian jauh lebih berharga jika dibandingkan dengan ilmu substansi yang saya peroleh di Sekdilu.

Setiap proses belajar, pengalaman kita bersama di Ciawi, BAIS dan Surabaya, paduan suara Ghita Buana, kelompok tari Saman, kelas dansa, partisipasi kita menjadi panitia APEC di Medan dan berbagai acara lainnya, kesenangan kita bersama di Senayan City dan warung gorengan depan pusdiklat adalah masa yang juga turut membuat saya bisa tersenyum bangga dan bahagia sepanjang tahun ini. Memang tidak hanya tawa, kita juga mungkin menghadapi perselisihan sebagai bumbu, tapi itu tidak lain untuk menjadikan persahabatan semakin bercita rasa.

Pernah, suatu waktu ketika saya merasa begitu berat dengan berbagai beban dan keletihan ditambah dengan kewajiban taskap yang pada saat itu sangat menyita pikiran, saya terselamatkan oleh kalimat seorang kawan di Sekdilu 37, katanya: “Raka, saya memang belum tahu apa itu kunci kesuksesan, tetapi yang saya tahu dan yakini bahwa kunci kegagalan adalah ketika kita selalu berusaha menyenangkan semua orang, itu tidak akan pernah mungkin”.

Memang dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan yang tidak mungkin kita peroleh seluruhnya. Sebagai individu dan sebagai peserta Sekdilu, kita sepenuhnya bebas memilih apakah ingin fokus dengan ambisi kita atau menjadi ambisius, bersikap rendah hati atau mementingkan diri sendiri, penuh strategi atau penuh kompetisi, bekerja optimal atau bekerja maksimal. Semuanya ada di pilihan kita masing-masing.

Namun, satu hal saya pelajari di Sekdilu bahwa menjadi diplomat tangguh dan handal untuk ditempatkan di garda terdepan Indonesia, bukanlah sebuah pilihan. Itu adalah kewajiban sekaligus anugerah yang Tuhan telah percayakan pada setiap kita untuk disyukuri dan diperjuangkan. Bukan lagi saatnya merasa diri sebagai crème de la crème, tapi bagaimana kepentingan nasional dan warga negara Indonesia kita perjuangkan semaksimal mungkin.

Sudah sepatutnya kita sebagai diplomat muda bersedia dan dengan penuh upaya untuk bekerja bagi bangsa Indonesia, di manapun kita ditempatkan. Saya yakin ini bukan hanya menjadi komitmen saya, tetapi juga komitmen seluruh teman-teman Sekdilu Angkatan 37. Karena saya percaya, di manapun kita ditempatkan nantinya, kita akan terus belajar hal baru, melalui proses kehidupan yang ada, menjadi pribadi yang lebih baik, dan akhirnya mengubah bangsa Indonesia dan dunia ini ke arah yang lebih baik, bagi kita dan generasi penerus kita.

Pada akhirnya, sebagai bentuk sumbangsih dan kerinduan kami untuk berbagi kepada masyarakat luas, Sekdilu 37 mempersembahkan sebuah buku yang berjudul “Refleksi Diplomasi Indonesia pada Abad ke-21”, yang berisi kumpulan hasil riset kami selama pendidikan, serta sebuah kumpulan tulisan yang kami beri judul “(Calon) Diplomat punya Cerita: Meniti Mimpi ke (Kementerian) Luar Negeri” yang berisi semangat, perjuangan dan seluruh harapan yang kami rasakan selama berada di Sekdilu Angkatan 37. Di samping itu, kami juga mempersembahkan suatu rangkaian gambar yang kami rangkum dalam sebuah film singkat yang berjudul “Menjadi Diplomat” dengan sisipan pesan bagi masyarakat tentang rekrutmen Kemlu yang bersih dan transparan. Kami juga sangat berterima kasih atas dukungan penuh Kementerian Luar Negeri dan Sekretariat ASEAN yang telah mengakomodasi dan memfasilitasi inisiatif kami, Sekdilu 37, untuk membumikan dan mensosialisasikan Komunitas ASEAN 2015 melalui acara 4000 Salam ASEAN di Lapangan Monas, yang akan diadakan pada hari Minggu pagi, 15 September 2013.

Bapak, Ibu dan hadirin yang terhormat, inilah kami para lulusan Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan 37, dengan seluruh kelebihan dan kekurangan yang masih perlu untuk terus dibimbing dan dibina. Kami siap memasuki babak baru kehidupan di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan semangat untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, Indonesia tercinta.


Terima kasih.

28.4.13

Sooner or Later


Traveling to breathtaking places would be much enjoyable to spend in this summer. I personally opt 3 must-visit places not before you die, but before they are gone in the future. Whether it‘s due to high evaporation, rising sea level, melting glaciers or increasing human population, global warming rapidly alters the landscape of this Mother Earth. Climate change is a current issue we need to be concerned.

Venice, Italy

Known as “The City of Water”, Venice is enlisted as The World Heritage Site together with its lagoon. There is no city on this planet which is consisted of many islands and linked by bridges as well as separated by canals. Threatened by flood tides from the Adriatic Sea, the city has been longer sinking each year. No one can predict how long Venice able to stand above the water, but obviously rising sea level due to global warming makes it faster.


The Dead Sea

Shimmering beauty under sunshine, the Dead Sea is around 420 meters below sea level in which minerals flowing continually. Rich in minerals lets it be very prominent for health treatment and skin-care production. Although there is no exit or outlet, it is located in very dry region that causes water only lose through high evaporation of sunny weather. Considered as the world’s saltiest body of water, it is shrinking and estimated will vanish in 2050 along with ecosystem around. Further, inflow to the Sea has been decreasing because of the expanding use of water from Jordan River – the only water supplier - by higher population of Israelis, Jordanians and Palestinians.

Maldives


Located in the Indian Ocean, Maldives is formed by small islands or atolls to be precise. It is also the lowest country in this planetwith an average ground level of only 1,5 meters above sea level. Unfortunately, this beautiful country could be engulfed by the ocean as the sea currently rises around one centimeter every year. As one of the most endangered nations due to flooding, Maldives is predicted as the first underwater country if both carbon emission and global warming are not stopped soon.











15.10.12

The Teenage S.T.A.R

Sudah hampir sebulan berlalu, dan kami mulai perlahan move on ke kehidupan masing-masing yang penuh dengan deadline, target dan berbagai jenis kawanannya. Walaupun demikian, hal ini telah memberi warna sendiri dalam hidup setiap kami, pribadi lepas pribadi, dalam bentuk sebuah pengalaman bertemu, bekerja sama dan membentuk 20 anak muda. Bekerja lewat waktu yang seharusnya dialokasikan untuk menjadikan mereka bintang baru di masa depan. Investasi? Anggap saja seperti itu.


Starteen 2012, itulah yang kami kerjakan selama beberapa bulan. Sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh HighEnd Teen magazine untuk memilih brand ambassador, yang tentunya berasal dari kalangan muda sekitar 13 – 19 tahun (highendteen.com/starteen). Dimulai pada tahun 2008, ajang ini bisa dibilang merupakan batu lompatan untuk belajar sebelum terjun ke dalam dunia entertainment di masa depan. Itulah mengapa, selain good-looking, seluruh finalis dituntut memiliki bakat unik yang dapat ditampilkan dan ‘dijual’. Mulai dari menyanyi, olahraga sampai beladiri, seperti Pencak Silat.

Meskipun audisi sudah diadakan dalam sekian satuan waktu sebelumnya, 20 September adalah masa di mana seluruh pengalaman ini dimulai. Pengalaman unik yang tidak pernah terbayang akan terjadi dalam kehidupan kami. Bukan, kami bukanlah finalis. Kami berlima adalah “The Chaperones” dengan komposisi seorang Head dan empat anggota yang masing-masing mengurus 5 finalis terpilih. Dan tidak semua dari kami adalah tim redaksi khusus untuk HighEnd Teen. Menyenangkan? Hei, kisah ini belum dimulai.


Walaupun sudah terpilih menjadi TOP 20, mereka masih cukup muda dan baru dalam konteks kegemerlapan langkah berbatu menjadi sekumpulan pekerja seni yang sukses, gilang gemilang. Sebagai pendamping sekaligus daily mentor, kami tidak ingin mereka menjadi bintang yang ‘asal jadi’ tetapi bintang yang memiliki disiplin tinggi, kecerdasan mumpuni, wicaksana adiluhung (read: kebijaksanaan) sehingga masyarakat awam dapat melihat mereka seperti sejumlah “Angels” atau malaikat yang membawa kebahagiaan bagi mereka yang sedang depresi dan butuh hiburan di televisi atau di manapun. Oya, mereka pun juga harus tahan banting, minimal setegar tokoh Annisa dalam film Perempuan Berkalung Sorban besutan Hanung Bramantyo.

Tantangan dari hari kesehari selama karantina, jujur, terbayarkan dengan keakraban seluruh finalis dan tentunya kesuksesan besar pada malam Grand Final yang ditayangkan di Global TV. Ini juga bisa dibilang pengalaman kami yang pertama to handle mereka sepenuhnya di belakang panggung. Penuh ketegangan dan kericuhan yang memacu emosi dan menguras perasaan. Belum lagi kami harus tetap menjaga semangat mereka untuk tampil memukau dan konsisten di depan kamera secara langsung (read: LIVE). Satu yang tidak pernah terlupakan: 5 finalis harus ganti baju dalam waktu hanya 1 menit. Bisa terbayang bagaimana rusuhnya. Keseruan itu pun berlanjut pada satu titik bagaimana kita menampilkan yang terbaik sampai kepada penobatan, tanpa terlalu ambil pusing siapa yang menang. Itu tetap keputusan juri yang subjektif (tidak akan pernah obyektif, referring to ‘selera’).


Ya, secara pribadi dan singkat, ini pengalaman seru dan menyenangkan untuk bisa menjadi bagian darinya. Masalahnya kan tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, meskipun itu tanpa pamrih apapun.

Terima kasih The Chaperones (dan yang lainnya) untuk kekompakan dan semua kerjasamanya.

Selamat untuk King and Queen Starteen 2012 dan seluruh finalis, you guys more than awesome!

One-Day Trip in Kutna Hora

Saya menulis kesaksian ini ketika sedang harus transit di Dubai Airport untuk menanti penerbangan subuh kembali ke Jakarta. Setelah kurang lebih 6 jam perjalanan dari Praha, akhirnya saya bias beristirahat sambil menikmati 3 tangkap sandwich dan segelas orange juice di restoran gratis khusus penumpang Emirates. Kembali lagi saya mempunyai waktu cukup untuk merenungkan betapa luar biasanya kasih Tuhan Yesus dalam hidup saya. Setelah lulus dari Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta akhir Desember 2010, saya “dihadiahkan” sebuah keajaiban luar biasa yaitu perjalanan satu bulan kembali ke Republik Ceko. Kali ini saya datang bukan sebagai exchange student seperti awal tahun lalu, melainkan untuk liburan dan sedikit belajar bahasa. Awalnya, saya sempat sejenak bertanya siapakah saya sehingga Dia begitu cinta padaku? Ia sudah memberikan keselamatan kekal dan sekarang ada bonus berupa perjalanan lagi ke Eropa. How amazing He is!


Ada beberapa tempat yang saya kunjungi dalam perjalanan kali ini. Salah satunya adalah Kutna Hora yang terletak sekitar 70 km sebelah timur Praha, ibukota Republik Ceko. Kota ini adalah sebuah kota kecil yang harus ditempuh sekitar 1 jam lebih dari Praha dengan kereta api seharga 136 Kc pp (sekitar Rp. 80.000,-). Sembari ditemani oleh seorang teman yang keturunan asli Indonesia tetapi berkewarganegaraan Perancis, kami berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Hlavní nádraží (stasiun utama) dengan bermodalkan kamera dan sarapan berupa Pribinacek – semacam yogurt, Párek v rohlíku – hotdog dan sebotol Perlivá voda – sparkling water. Perjalanan kali ini merupakan kesekian kalinya saya menggunakan kereta untuk mengawalinya. Hal ini tentu membuat saya tidak lagi canggung, apalagi saya sudah mampu sedikit berbahasa Ceko yang sangat kompleks itu. Saya patut bersyukur atas hal ini.

Cathedral of Our Lady dan Kostnice – Gereja Tengkorak

Sekitar pukul 10 kami tiba di Kutna Hora bersama sejumlah turis lain dari berbagai bangsa. Sepertinya kami semua punya satu kesepakatan, yaitu kembali ke Praha pada petang hari. Kira-kira seperti itulah yang saya tangkap dari percakapan sepasang turis asal Inggris. Kami pun langsung berjalan kaki sekitar 1 km menuju 2 gereja yang cukup bersejarah. Kami langsung terpukau dengan Cathedral of Our Lady atau Katedrála Nanebevzetí Panny Marie dalam bahasa Ceko karena bentuknya yang ramping tapi megah. Gereja ini ternyata menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage. Hal terunik dari gereja ini adalah pemandangan ketika kita pertama kali masuk altarnya. Menurut ibu penjaga yang berada di sana, altar yang beratap tinggi ini akan semakin menarik pada musim semi dan gugur, di mana pantulan cahaya matahari membuat altar begitu terang terfokus dibanding sisi sekitarnya.


Setelah itu, kunjungan kami langsung mengarah ke Kostnice, Sedlec, yang sangat terkenal karena terdapat kumpulan tengkorak manusia yang sengaja rapi disusun di bawah gereja. Letaknya pun di tengah lahan pemakaman keluarga dari masa lampau. Belum dapat dipastikan sejak kapan bangunan ini dibangun. Akan tetapi, ada data pasti yang menyatakan bahwa tengkorak yang terdapat di situ merupakan tengkorak para prajurit pada masa Perang Hussite tahun 1421-1424 di mana terdapat bekas pedang, cambuk, tongkat dan panah pada sejumlah tengkorak. Hussite sendiri merupakan perang yang diawali oleh pemikiran seorang Jan Hus yang menentang beberapa keabsolutan Gereja Katolik, seperti pengampunan dosa dengan cara membayar uang. Kisahnya memang mirip dengan Martin Luther. Satu hal yang membuat saya penasaran adalah mengapa tengkorak ini perlu dipajang mirip pameran? Pemandu yang ada di situ pun menjawab bahwa tujuan hal ini adalah untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia. Sekuat dan sehebat apapun seorang manusia, kita tetap harus menghadapi kematian. Pameran tengkorak ini mengingatkan kita bahwa manusia itu memang tidak layak bersikap arogan karena seluruh hidup kita memang bergantung pada Tuhan saja. Pemaparan ini cukup bertentangan jika kita melihat kenyataan saat ini bahwa mayoritas penduduk Ceko adalah Atheist.


Perjalanan kami pun harus berlanjut ke Centrum atau pusat kota yang cukup jauh. Oleh karena itu, kami bertanya ke Info Center yang ada di dekat Kostnice. Ia memberikan peta dan menunjukkan jalan kepada kami dengan sangat ramah, tidak seperti orang Ceko pada umumnya. Uniknya, selain memperoleh informasi gratis, saya pun mendapat hadiah berupa DVD dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk Indonesia, yang mengisahkan permulaan dunia sampai kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Ia sebenarnya tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang Kristen namun dengan berani Ia menyatakan bahwa Yesuslah satu-satunya juru selamat manusia untuk memperoleh hidup kekal. Kembali saya terhenyak akan hal ini. Saya tidak pernah menemui kesaksian yang berani seperti ini dari lidah orang Ceko selama hampir satu tahun berada di Praha.


Menu Siang diakhiri di Santa Barbara

Kami langsung menumpang bus kota untuk menuju pusat kota Kutna Hora. Sebelum melangkah lebih jauh, kami pun berhenti di Restaurant Mincovna di Hotel Opat tanpa mengetahui referensi apapun tentang makanan di sana. Restoran yang cukup nyaman untuk makan siang tanpa ada pengunjung lain selain kami berdua. Saya pun memesan Topinkové hranolky s česnekem (roti tawar yang digoreng dengan olive oil dan bawang putih), sepiring Chicken grill with blue cheese cream dan secangkir teh hangat. Jujur, bentuk kurang menarik tetapi rasanya enak luar biasa! Bahkan saya masih ingat rasanya kalau melihat foto-foto di Kutna Hora. Harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran negara-negara Eropa. It was the best lunch I’ve ever had!

Langkah kami pun berlanjut menuju Jesuit College yang juga cukup terkenal di kota ini. Perjalanan ke sana pun semakin spektakuler karena kami melewati Kamenná kašna (semacam tugu di perempatan jalan), České muzeum stříbra-Hrádek (Museum perak megah yang kebetulan sedang tutup) dan toko barang antik (Antikvariat) untuk membeli sejumlah kartu pos kuno. Kebetulan saya adalah seorang kolektor kartu pos karena selain murah, gambar yang disajikan begitu indah dan cukup sulit didapatkan dengan menggunakan kamera biasa. Tibalah kami di sisi samping Jesuit College (Jezuitska Kolej) yang dibangun dengan arsitektur gaya Baroque setelah kedatangan kamu Jesuit yang cukup membawa perubahan di kota tersebut pada tahun 1626.

Di depan Jesuit College, kami langsung dapat melihat keindahan Gereja Katedral St. Barbara (Velechrám sv.Panny Barbory) yang begitu menakjubkan dengan banyak tower mungil yang mengelilingi atap gereja. Biaya untuk masuk dan menikmati kemegahan gereja tersebut adalah 85 Kc atau sekitar Rp. 40.000,- yang memang cukup aneh karena biasanya kita tidak perlu membayar untuk masuk sebuah gereja tetapi saya tidak mau terlalu lama mempertanyakan hal ini. Anggap saja hal ini wajar di sejumlah tempat. Gereja ini ternyata dibangun oleh sejumlah arsitek yang berbeda abad. Pembangunan pertama dimulai pada tahun 1388 oleh Jan Parler dengan hanya satu bagian yaitu The Presbytery. Kemudian berkembang hingga tahun 1773 menjadi 13 bagian kapel di sekeliling ruang jemaat. Info yang menarik dari penjaga gereja adalah bahwa gereja ini dibangun oleh para penambang perak yang datang pada tahun 1142 setelah melepaskan diri dari pengaruh kaum Cistercian yang berpusat di gereja sebelumnya, Cathedral of Our Lady. Tidak heran jika di bagian tengah kursi jemaat terdapat patung penambang yang cukup besar. Hal yang membuat saya kagum adalah rentang waktu yang amat panjang dalam proses pembangunan dan penyempurnaan gereja tersebut yang disertai oleh kesetiaan jemaatnya pada masa itu.


Dari gereja katedral Santa Barbara, kami langsung mengambil jalan menuju halte bus terdekat untuk kembali ke stasiun mengejar kereta pukul 5 sore yang menuju Praha. Dalam perjalanan pulang, saya sejenak berdoa dan merenungkan kebaikan Tuhan karena saya dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, di mana kepercayaan saya bukanlah menjadi mayoritas. Saya memang patut bersyukur karena setiap tantangan yang ada dan kualami ternyata membuat saya semakin kuat di dalam proses yang Tuhan berikan dalam hidupku. Pada masa dulu, Republik Ceko atau apapun namanya sebelum saat ini merupakan kekuatan yang besar dalam perkembangan Kekristenan, seperti sejumlah kawasan lain di Eropa. Akan tetapi, kenyataan sejarah berbicara lain di negara ini sekarang. Perubahan besar ke arah berlawanan membuat mayoritas atheis berkembang pesat. Saya tidak mengatakan bahwa orang atheis tidak baik atau tidak bermoral. Mereka justru mungkin lebih baik dari sebagian kita yang beragama tetapi ke mana mereka akan pergi setelah kehidupan di dunia ini? Firman Tuhan mengatakan “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanm.” (Yeremia 29:17). Itulah salah satu tanggung jawab kita semua sebagai orang percaya dimanapun kita berada. Tidak hanya untuk kita saat ini tetapi juga keturunan kita yang akan melanjutkan generasi ini. Tuhan Yesus memberkati.

16.9.12

Bahana, April 2010

Hari ini entah kenapa saya menemui sejumlah artikel yang pernah saya tulis pada masa kuliah dulu. Dan salah satu yang pertama dan "menyentuh" adalah kesaksian saya di Majalah Rohani Bahana dengan memakai nama Raka Tantra Pamungkas hehe :)
Note: Sempat ketawa juga baca artikel ini lagi, masih penulis awal dan awam alias amatiran.


Berikut artikel lengkapnya

PRAHA: Kota yang (Baru Saja) Bebas itu Sangat Indah

Dobrý den, jak se máte? (dibaca: Halo, apa kabar?) Itu adalah sapaan yang biasa diberikan oleh orang Ceko. Praha adalah ibukota Republik Ceko. Saya dapat belajar di Praha karena berkat Tuhan yang melimpah. Ini semua anugerah-Nya. Awalnya saya mengikuti seleksi untuk Exchange Student ke Metropolitan University Prague (MUP) di Republik Ceko. Sebenarnya, program ini adalah kerjasama antara jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta dengan KBRI Praha dan MUP. Puji Tuhan, saya merupakan satu-satunya mahasiswa yang terpilih mengikuti program ini. Di sini saya mengambil kuliah semester 6, jurusan International Relations and European Studies.

Ada Apa Dengan Ceko
Sebelum berangkat kekhawatiran dan pertanyaan muncul dalam benak. Terbesit pertanyaan “Bagaimana kehidupan saya di sana nanti?”, terutama untuk kehidupan rohani dan hubungan pribadi saya bersama Yesus Kristus. Republik Ceko adalah bekas negara Uni Soviet dan pada tahun 1993 mengalami perpisahan secara damai dengan Slovakia melalui Velvet Revolution. Jadi perlu sedikit diperhatikan bahwa sekarang sudah tidak ada lagi negara Cekoslovakia. Mayoritas penduduknya adalah atheis akibat dari pengaruh komunis pada masa lalu. Meskipun demikian, bangunan megah gereja Katolik masih berdiri kokoh di seluruh Praha dan Ceko. Sayangnya, sebagian besar dari gereja tersebut sudah tidak berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan untuk tujuan wisata. Republik Ceko sendiri terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu Bohemia, Moravia dan Silesia. Masyarakat Moravia di sebelah tenggara dan selatan, terkenal lebih ramah, tradisional dan taat beribadah dibandingkan dengan Bohemia, di mana Praha termasuk di dalamnya.

Tidak hanya teman dari Ceko saja yang saya kenal di sini. Justru teman-teman program Erasmus dari beberapa negara Eropa, yang saya kenal dengan lebih dekat. Satu sisi menyenangkan mempunyai teman baru dengan kebiasaan dan budaya yang unik. Akan tetapi, ini juga merupakan tantangan besar bagi saya. Mereka bersahabat dengan cara mereka dan saya harus menghormatinya. Mereka sangat suka nongkrong di bar atau Hozpoda (warung makan khas Ceko), untuk berbincang satu sama lain pada malam hari (biasanya mulai jam 22.00 sampai pagi) dengan ditemani oleh bir! Masyarakat Ceko adalah salah satu produsen dan konsumen terbesar di Eropa untuk minuman beralkohol. Bir yang terkenal di sini adalah Pilsner Urquell atau Gambrinus, dan daerah Moravia merupakan penghasil wine yang sangat terkenal.


Rohlik, Kobliha, dan Goulash
Awalnya takut untuk terus bergaul. Akan tetapi, saya tidak bisa menyangkal bahwa saya butuh teman. Jadi yang saya lakukan adalah bergaul dengan batas-batas tertentu, seperti tidak lebih dari jam 12 malam atau tidak minum bir sampai mabuk. Pada masa Winter di bulan Januari dan Februari, bagi saya cukup logis untuk meminum bir atau wine sebagai penghangat, karena suhu di sini selalu minus setiap malam. Saya setuju bahwa suatu hal yang bodoh jika meminum alkohol di Indonesia, yang udaranya panas dengan suhu sekitar 30-32 derajat Celcius. Sampai saat ini, teman-teman saya dari Eropa sangat memahami perbedaan budaya yang terjadi di antara kami. Teman saya yang berasal dari Asia di sini hanyalah dari Taiwan, Turki dan warga keturunan Vietnam.

Selain terkenal dengan bir-nya, Ceko juga cukup terkenal dengan beberapa makanan khasnya, seperti Goulash, Kobliha dan Rohlik. Pertama kali memakannya, saya rasa mual dan aneh. Alasannya karena Goulash dibuat seperti sup berlemak mirip gulai dengan minyak yang sangat banyak, rasa daging babi yang khas, dan bumbunya begitu pekat. Kobliha adalah roti biasa (sepeti donat) yang di dalamnya diisi dengan buah blueberry segar yang rasanya sedikit asam. Sedangkan, Rohlik merupakan makanan pokok bagi warga Ceko yang sebenarnya adalah roti plain biasa dengan harga sekitar 1 Crown (Rp. 500,-), makanan pokok lainnya adalah Dumplings.

Dumplings serupa dengan Rohlik yang terbuat dari kentang dan tepung, cara memasak dumplings yaitu dengan dikukus. Semua makanan itu aneh saat pertama mencicipinya. Akan tetapi, sekarang hamper setiap hari saya memakan Rohlik untuk sarapan, beberapa Kobliha untuk makan siang di kampus dan kadang Goulash di malam hari. Uenak tuenan! Mantap! Hahaha……

Praha dan Peninggalan Sejarah
Praha memang terkenal sebagai kota yang cantik di seluruh dunia, ditambah lagi dengan transportasi yang sangat baik, seperti bus, tram dan metro. Tujuan wisata yang cukup terkenal di kota Praha adalah Prague Castle Area, Charles Bridge yang terkenal dengan patung Yesus di atas kayu salibnya, Old Town Square (memiliki Astronomical Watch yang ada di Balai Kota), Lesser Town, Jewish Quarter, Vaclavske Namesti dan Narodni Muzeum. Semuanya luar biasa indah. Beberapa bangunan terkenal juga ada di Praha, antara lain adalah Jembatan Charles atau Karluvmost dalam bahasa setempat dan Menara Televisi Žižkov.


Oleh-oleh khas Ceko yang terkenal, antara lain Bohemian crystal, batu Granite, anggur Moravia, batu Amber dari Ostrava dan beberapa suvenir lainnya. Selain Praha, kota-kota di luarnya juga tidak kalah cantik. Sampai saat ini saya sudah pernah mengunjungi Pardubice, Ceske Budejovice, Benatky, Ostrava, Boretice dan Slavkov. Saya sangat merekomendasikan kota Pardubice dan Ceske Budejovice, karena kota ini mempunyai kastil nan megah dan indah bak di negeri dongeng.

Menara Televisi Žižkov merupakan pusat perhatian di Praha, ibukota Ceko. Menara ini dibangun antara 1985 dan 1992. Menara yang menjulang di angkasa kota Praha ini berada di distrik Zizkov, yang merupakan asal mula nama menara itu. Menara ini digunakan sebagai observatorium meteorologi. Pada tahun 2000, seorang seniman Ceko David Černý membuat pahatan-pahatan bayi yang sedang merangkak naik dan turun, kemudian dipasang di pilar-pilar menaranya. Terlihat sangat unik.

Pardubice adalah kota yang terletak di sebelah utara Ceko, 65 mil sebelah timur Praha. Di sana berdiri istana Pardubice yang sudah di renovasi. Tahukah Anda permainan unik dan asyik di Pardubice? Hoki es adalah permainan yang digemari di sana. Hoki ada di Pardubice sejak awal abad ke-20. HC Pardubice adalah klub Hoki terkenal di sana. Heem...sebut saja Josef Paleček, Vladimír Martinec merupakan nama-nama pemain terbaik di klub Hoki.

Ceske Budejovice terletak di sebelah selatan Ceko. Ceske budejovice adalah kota terbesar di daerah Bohemia Selatan. Di sinilah pusat komersial politik serta ibukota dari daerah dan pusat Keuskupan Katolik Roma. Kota tua ini mempertahankan arsitektur menarik dari Gothic, Renaissance, Baroque di periode abad ke-19. Ini termasuk gedung-gedung di sekitar alun-alun kota besar, balai kota tua dengan mural, perunggu gargoyle, dan kota menara “Cerna vez” ( “Black Tower”). Bangunan bersejarah di České Budějovice adalah Dominika biara dengan gereja Gothic Presentasi Piaristic Perawan Maria di alun-alun dan Kastil Hluboka nad Vltavou.

Pastor John Waldrop
Walaupun berada di negara dengan mayoritas penduduk Atheis, saya bersyukur karena masih ada gereja internasional berbahasa Inggris. Saat ini, saya beribadah di International Church of Prague dan mengikuti komunitas sel setiap hari Jumat. Di sinilah saya merasa damai sejahtera dan dikuatkan dalam pergumulan hidup sehari-hari, baik masalah kuliah atau pergaulan di Praha. Hal yang mengejutkan bagi saya adalah ketika gembala sidang ICP, Pastor John Waldrop langsung mengirim email kepada saya pada malam hari. Beliau menanyakan pergumulan hidup saya dan apa yang bisa ia bantu serta doakan. Semua ini karena anugerah Tuhan Yesus. Saya berangkat dengan pegangan satu ayat, yaitu “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3: 23). Tuhan Yesusku memang dahsyat dan ajaib.

Note: Terima kasih untuk Okta yang sudah membantu "bersaksi"

Kedaulatan Rakyat, 7 Juni 2011

Kaget, bingung dan bangga. Itulah perasaan yang muncul ketika seorang teman menelepon saya pagi hari pada tanggal 7 Juni 2011. Seperti biasanya, saya masih menikmati udara pagi di sekitar kompleks, tempat di mana saya menyewa kost yang baru di Surabaya. Katanya, "terima kasih sudah menginspirasi, beritamu telah naik hari ini di Kedaulatan Rakyat sebagai tugas akhir magang saya." Memang beberapa saat sebelumnya dia sempat menelepon dan menanyakan beberapa hal. But I never thought it's such a thing to be posted on national newspaper! Tapi demikianlah yang terjadi.

Dan hari ini, tanpa sengaja saya membacanya ketika mencari data di google. Kira-kira beginilah beritanya. Fun to record! tidak setiap hari terjadi, kan?!?


MAHASISWA BERPRESTASI: Berani Buang Zona Nyaman

Kesuksesan dan prestasi seringkali bersinggungan dengan nilai-nilai daya juang, kerja keras dan prinsip hidup. Jarang ada, orang sukses dan berprestasi karena unsur kebetulan atau dihasilkan melalui jalur kenyamanan. Demikian pula dengan Raka Tantra Dwieqy Pamungkas. Anak muda yang diwisuda januari 2011 lalu, kini telah bekerja sebagai overseas education counselor di AUG Global Network Cabang Surabaya, yang berkantor pusat di Meulbourn, Australia. Karena filosofi hidup yang dipegangnya, Raka saat mahasiswa memperoleh sejumlah keberhasilan. Ia dipercaya sebagai delegasi Indonesia pada International Youth Leadership Conference (IYLC) ke-20 di Praha, ceko, 11-16 Juli lalu. IYLC adalah wadah untuk mengumpulkan pemuda dari seluruh dunia untuk duduk dan diskusi bersama. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi Civic Concept International ini bertujuan untuk menemukan ide dari pemuda di dunia guna membahas isu dunia terbaru yang mendesak, seperti Human Rights Violation, Nuclear, dll.

Keuletan pemuda kelahiran Balik Papan, 9 agustus 1989 ini juga tercermin dari anugrah “Karya Cendikia,”yang pernah diterimanya dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN), karena tulaisan dalam skripsinya yang berjudaul “The Rasionalist Reasons to The Disparity of Benefits Within Eastern Partnership”. Tentu ini istimewa, karena biasanya mahasiswa S1 membuat skripsi berbahasa Indonesia, tetapi Raka membuat terobosan menulis skripsi dalam bahasa inggris.

“Kesuksesannya” itu tak luput dari motto hidup yang selalu dipegangnya “enjoy this life by doing my best”. Menurut Raka, ada tiga faktor yang mempengaruhi kesuksesannya itu. Pertama, harus menemukan apa tujuan hidup, lalu fokus dengan tujuan itu. Dengan begitu kita tahu kemana harus melangkah, serta lebih mudah mencapai garis finish. Kedua, go beyond your comfort zone. Artinya, harus keluar dari zona nyaman, berani mengembangkan diri. Jika tidak berani mengambil suatu langkah, mana mungkin ada perubahan?Terakhir tentunya adalah campur tangan Tuhan. Bagi Raka, keterlibatannya dalam “International Youth Leadership Conference”(IYLC) di Praha, Ceko, adalah kegiatan yang positif. Bahkan hasil sidang khusus European Parliament di referensikan ke Uni Eropa sebagai bahan pertimbangan. Dengan mengikuti kegiatan ini, Raka dapat memperluas jaringannya hingga hampir ke seluruh pelosok Dunia.

Untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut, proses seleksinya cukup ketat. Penyelenggara menilai prestasi akademik dan non akademik yang dilihat dari profil calon peserta yang dikirim beserta esay singkat tentang sejumlah isu di dunia. Saat itu Raka menulis tentang krisis air di Pulau Alor, NTT. Krisis air yang berkepanjangan ini pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup masyarakatnya, terutama dalam bidang pendidikan. Tidak heran jika NTT beberapa kali meraih peringkat terendah untuk tingkat kelulusan UN seluruh Indonesia. Dengan tulisan yang mampu membawanya ke ajang IYLC itu, Raka juga berharap kepada pemerintah Indonesia bahkan dunia, untuk memperhatikan Indonesia timur, tidak melalui javacentris. Selain mengikuti ajang IYLC, Raka juga mendapatkan kehormatan serta kesempatan yang langka untuk mengikuti program magang di KBRI Ceko.

Ingin seperti Raka? Tinggalkanlah “Zona Nyaman” Sekarang juga!

Note: Many thanks for my dear friend, Hanita Meirawati :D